oleh

Danau Galela Yang Tak Lagi Eksotis

TERBENTANG sepanjang 407 hektar nan eksotis jika dipandang mata, danau Galela salah satu anugerah Tuhan kepada kita. Namun keindahan tersebut saat ini tak lagi Nampak.  Eceng Gondok di danau Galela mengalami pertumbuhan yang begitu cepat dan terasa kian sulit dikendalikan.

Danau dengan kuas 407 hektar ini terus mengalami penyusutan akibat penyebaran eceng gondok yang sudah mencapai 70 persen. Semakin sulitnya masyarakat nelayan dalam melakukan aktifitas harian seperti memancing dan menjala ikan karena sebagian besar perahu nelayan sering terjebak dan sulit untuk berbergerak.

Kendati upaya untuk mengatasi munculnya enceng gondok salah satu jenis tumbuhan air mengapung tersebut telah dilakukan beberapa kali, misalnya oleh Pemerintah Daerah Halmahera Utara di tahun 2015 dengan anggaran sebesar 500 juta melalui dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) untuk pembelian ikan koan(sejenis ikan herbivora pemakan tumbuhan).

Sayangnya, upaya itu belum berhasil mengatasi menjamurnya Eceng Gondok di danau yang melintasi sekitar 12 desa di pulau Galela itu. Sampai kini Enceng Gondok masih terlihat mencapai 70 persen permukaan di sungai.

Warga setempat saat ditemui mengaku, beberapa waktu lalu salah satu perusahaan tambang di Maluku Utara membeli enceng gondok, hanya saja tidak ada kelanjutannya. “Pernah NHM (persuahaan tambang) membeli, entah untuk apa kami tidak tau, tetapi saat ini tidak lagi”, kata Agussalim warga Galela.

Padahal katanya, harapan masyarakat terhadap Pemerintah Daerah Halmahera Utara agar masalah enceng gondong adalah salah satu Pekerjaan Rumah yang harus diselesaikan.

Agussalim mengatakan, Pemda Halut harusnya memikirkan secara ekonomi enceng gondok dapat digunakan untuk menjadi pendapatan masyarakat setempat. “Jangan kita piker enceng gondok menjadi suatu masalah (musiba) akan tetapi kita lihat menjadi pendapatan masyarakat”, ungkapnya.

Diihat dali laman https://bacaterus.com banyak manfaat yang dapat dilakukan untuk tumbuhan enceng gondok. Bila dilihat sekilas, tumbuhan ini memang nampak tidak bisa dimakan. Akan tetapi, 70 persen bagian dari eceng gondok ternyata bisa dan aman dikonsumsi. Tanaman liar yang satu ini juga menyediakan sejumlah zat dan vitamin yang diperlukan oleh tubuh manusia. Setiap ons eceng gondong menyediakan 18 kilokalori, 3,8 gr karbohidrat, 1 gr protein, 45 mg fosfor, 80 mg kalsium, dan 4 mg zat besi. Tak hanya itu saja, tanaman liar yang dianggap mengganggu pemandangan ini juga menyediakan Vitamin A, B1, dan C. Berminat untuk mengonsumsi eceng gondok? 2. Meringankan penyakit maag

Tidak banyak yang mengetahui bahwa tanaman eceng gondok ternyata dapat dimanfaatkan sebagi obat pereda maag. Penyakit maag disebabkan karena kadar asam lambung yang sangat tinggi. Air rebusan daun eceng gondok ternyata dapat menetralkan asam lambung.

Manfaat eceng gondok selanjutnya juga tak kalah mengejutkan. Apabila saat ini Anda sedang mengalami gatal-gatal di kulit yang disebabkan oleh ulat bulu atau penyakit kulit lainnya, cobalah memanfaatkan eceng gondok untuk meredakan rasa gatal tersebut. Eceng gondok dapat berperan sebagai anti-pruritus yang efektif untuk meredakan rasa gatal berlebih pada kulit. Ambil beberapa lembar daun eceng gondok, lalu tumbuk sampai benar-benar halus. Setelah itu, balurkan daun eceng gondok yang sudah dihaluskan itu ke kulit yang terasa gatal. Diamkan selama beberapa jam sampai gatal yang Anda rasakan benar-benar hilang.

Selain itu, dapat juga sebagaic Pembersih polutan logam berat. Bacaterus sempat mengulas seputar manfaat abu vulkanik yang dapat menjernihkan air dari limbah logam berat. Pun begitu dengan eceng gondok. Tanaman liar ini ternyata dapat menyerap logam berat yang seringkali mencemari perairan. Beberapa pabrik mungkin masih membuang limbah logam berat di sungai. Tumbuhan yang dianggap gulma ini dapat menjernihkan air sungai tersebut dari polutan logam berat. Tak hanya itu saja, eceng gondok ternyata juga dapat menyerap residu pestisida.

Enceng gondok juga bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan yang cantik. Masyarakat yang berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur sering memanfaatkan eceng gondok untuk dianyam menjadi sebuah kerajinan tangan.

Daun dan batang eceng gondok yang sudah dikeringkan bisa dianyam menjadi tirai, tas, sandal, sampai dengan dompet. Kerajinan yang terbuat dari eceng gondok ini tidak hanya dipasarkan di Indonesia saja, tetapi juga di mancanegara.

Walau terkesan tidak berguna, ternyata eceng gondok bisa menjadi bahan pembuatan pupuk organik, lho. Sebuah penelitian menemukan fakta bahwa eceng gondok mengandung asam humat yang menghasilkan senyawa fitohara. Senyawa tersebut diklaim dapat mempercepat pertumbuhan tanaman.

Untuk membuat pupuk organik dari eceng gondok, hancurkan sejumlah eceng gondok dan campurkan dengan dekomposer. Setelah dibiarkan selama beberapa hari, pupuk organik berbahan dasar eceng gondok ini siap dipakai untuk menyuburkan tanaman.

Enceng gondok dapat masuk di areal insutri, karena Selain dipakai sebagai bahan pembuatan pupuk organik, manfaat eceng gondok lainnya adalah dijadikan sebagai bahan pembuatan kertas. Eceng gondok dipilih sebagai bahan pembuatan kertas karena mengandung serat dengan tekstur yang sama seperti pohon. Jadi, eceng gondok bisa menggantikan pohon yang notabene adalah bahan utama pembuatan kertas. Pulp eceng gondok memang berwarna coklat tetapi bisa diputihkan melalui proses bleaching.

Eceng gondok ternyata bisa diolah menjadi pakan ternak. Bukan sekedar untuk memberi pakan ternak saja, ternak yang mengonsumsi eceng gondok juga menjadi lebih sehat dan gemuk. (red)

Bagikan

Komentar

News Feed