oleh

BNPB : 2.000 Lebih Warga Mengungsi, 2 Meninggal Dunia

TERNATE,MSC-Pasca ditetapkannya darurat penanganan gempa di kabupaten Halmahera Selatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, penanganan Darurat Gempabumi Halmahera Selatan M7,2 dimana tercatat lebih dari 2.000 orang mengungsi di 14 titik pengungsian, dan 2 orang korban jiwa meninggal dunia yakni, Aisyah (51) warga Desa Gane Luar dan Halimah warga Desa Papaceda, Kecamatan Gane Barat.

Agus Wibowo, Plh. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB merinci 14 titik menjadi pusat penampungan pengungsi saat ini. Pengungsian di kantor Polsek Saketa sebanyak 89 orang, Kantor PDAM Saketa 65 orang, Aula kantor Bupati Halmahera Selatan 300 orang, Polres Halmahera Selatan 170 orang, Masjid Raya Halmahera Selatan 500 orang.

Sementara di Kantor Dinas Sosial Halmahera Selatan 70 orang, Kodim 1509 sebanyak 45 orang, Rumah Dinas Ketua DPRD 100 orang, Rumah Dinas Waka II DPRD  50 orang, Rumah Dinas Bupati Halmahera Selatan 70 orang, Gedung SMAN 5 Halmahera Selatan  84 orang, Kantor Pemda Halmahera Tengah & Kantor DPRD Halmahera Tengah 25 KK, Bukit Goeng/Cafe Goeng 15 KK, Kecamatan Bacan Selatan 1.000 jiwa.

“Timur juga terdapat Pengungsi mandiri di Desa Hidayat, Desa Makean, dan Desa Tomori”, sebut Agus Wibowo dalam keterangannya yang dikeluarkan, Senin (15/7/2019).

Tim Reaksi Cepat (TRC) BNPB sudah menuju ke lokasi bencana

untuk melakukan pendampingan

Upaya yang dilakukan saat ini dimana BNPB akan menurunkan tim drone ke lokasi bencana, Pemkab Halmahera telah menyiapkan 3 titik pengungsian (Kantor Bupati, Masjid Raya, dan rumah dinas Bupati Halmahera Selatan).

Sementera itu, sejak semalam Pemda Halsel bersama TNI/Polri serta instansi terkait

fokus pada penanganan para pengungsi yang berada disejumlah titik dan mengumpulkan tenda, memasang tenda pada sejumlah lokasi pengungsian serta merencanakan pendistribusian logistik

“Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkominda) Halmahera Selatan memfokuskan pendirian Posko dan titik pengungsian di Labuha”, katanya.

BNPB menyebutkan, kendala yang dihadapi dimana skses jalan ke lokasi terdampak hanya melalui laut dikarenakan akses jalan darat masih belum terbangun. Sementara rute yang dapat ditempuh Ternate-Sofifi (speed boat) dan dilanjutkan dengan perjalanan darat Sofifi-Saketa.

“Kalau pesawat udara Ternate-Labuha (Flight terbatas 1x sehari) atau Ferry (10 jam). Labuha-Saketa akses hanya dengan speed boat (5 jam)”, sebutnya.

Guncangan dilaporkan terasa di daerah Obi V MMI, Labuha III MMI, Manado, Ambon II-III MMI, Ternate, Namlea, Gorontalo, Raja Ampat, Sorong, dan Bolaang Mongondow II MMI. (red)

Bagikan

Komentar

News Feed