oleh

Menakar “Cara Pandang” Sang Kapten

Muhdar Adam | Sekretaris BAPPILU Partai NasDem

“Periode Kedua, AMAN Bakal Jadikan Tidore Kota Jasa dan Bisnis”,demikian judul berita Habari-News.com yang diposting tanggal 21 September 2019 pukul 08.37, dengan judul yang menghendak, media online ini merangkum penggalan peryataan Walikota Tidore kepulauan pada acara sliaturrahmi empat kelurahan yang dipusatkan di depan Pasar Sarimalaha pada jum’at malam tanggal 20 September 2019, (untuk jelasnya bisa dibuka situs beritanya: https://www.habari-news.com/2019/09/periode-kedua-aman-bakal-jadikan-tidore.html?fbclid=IwAR3ObkBsrf5lQiOkfKj_2xXs0sHIuWMX8PQXfIjWGUM4asUjZFEVdOOJtqI)

Sebagai publik yang sering bergelut dengan diskursus soal pemerintahan, saya merasa sangat sedih bin malu, usai membaca secara utuh penggalan pernyataan seorang walikota yang bertanggungjawab atas kemaslahatan rakyatnya.

Tanpa harus menyoal apakah ini kegiatan Silaturrahmi ataukah kampanye Bakal Calon Walikota/Wakil Walikota, sebab termuat jelas penuh semangat “….bilamana dirinya bersama dengan Muhammad Sinen diberikan amanah untuk memimpin Kota Tidore Kepulauan lima tahun lagi, maka akan membangun sejumlah infastruktur guna memperlancar dalam jasa dan bisnis…” biarlah konten dan tempat pelaksanaan kegiataan ini menjadi ranah Bawaslu untuk ditelaah, karena saya lebih tergelitik menalari bagaimana “melihat Tidore dalam cara pandang Capt.Ali Ibrahim”.

“….Fokus pembangunan Kota Tidore Kepulauan kedepan sebagai kota jasa dan bisnis..”, penggalan kalimat ini cukup memberikan kesan kepada saya bahwa kecakapan Capt. Ali Ibrahim sebagai Walikota sangatlah terbatas cara pandang dan pengetahuan beliau atas ruh sebuah kota. Aspek memahami apa yang dimiliki seharusnya menjadi kompas-bagi seorang navigator-dalam memutuskan apa yang dilakukan, melatari lahirnya keputusan kemanakah arah yang dituju seolah begitu samar, ataukah sang kapten sedang berlayar dalam pancaroba yang berkabut?. Kota Tidore, sebagaimana kita pahami Konsep pengembangan kota (urban development), memiliki kelemahan mendasar yang kita sadari bersama adalah kota dengan petumbuhan penduduknya relatif lamban. Hingga tahun 2018,  berdasarkan update terakhir data BPS per tanggal 05 September 2019, jumlah penduduk Kota Tidore kurang lebih 100.415 jiwa. Hal ini menjadi menjadi tantangan tersendiri karena Tidore adalah kota dengan masyarakatnya lebih dekat dengan pertanian/perkebunan dan perikanan (rural) bukan kelompok masyarakat berbasis industri atau jasa (urban). Selain masalah kependudukan, masalah sosial ekonomi dan sosial budaya yang juga adalah faktor-faktor pokok pengembangan kota, bagimana perkembangan kegiatan usaha masyarat, dan perubahan pola kehidupan dan tata cara masyarakat akibat pengaruh dari luar dan laju informasi dan komunikasi, ini seharusnya menjadi soal-soal yang secara cermat dijawab oleh pemerintah sebagai fondasi yang kokoh sebelum berkicau soal pengembangan kota.

“…Nantinya kita bangun hotel di Rum serta konsentrasi maitara sebagai pariwisata dengan tujuan pendapatan masyarakat dan Tidore akan maju…”, ini adalah bagian lain dari pernyataan entah sebagai Walikota atau sebagai Bakal Calon Walikota. Pernyataan ini bagi saya mempertegas keterbatasan Capt. Ali Ibrahim Sebagai Walikota dalam melihat dan merencanakan program pembangunan. Bawah lokasi pariwisata yang entah dengan pertimbangan apa dialihfungsikan sebagai arena balap, bahwa posisi PLTU sebagai sumber polusi yang sudah berlokasi di kelurahan Rum, yang cukup dekat dengan pulau maitara, adalah kenyataan tak terlihat oleh sang kapten. Sehingga dengan penuh semangat mencanangkan rum dan maitara sebagai pusat pariwisata dan perhotelan.

“…direncanakan membangun rumah sakit rujukan lewat pinjaman sebesar 120 miliar…” entah isyarat apa yang ingin disampaikan seorang Walikota dari pernyataan ini. Jika ini adalah janji politik, maka ini adalah janji yang buat tanpa melihat kenyataan bahwa publik tak buta, jika ini adalah sesuatu yang hendak dilasanakan, barangkali beliau lupa jika masa jabatan beliau akan berakhir diawal tahun 2021. Syarat pinjaman daerah jika Walikota sering membaca, beliau akan melihat bahwa upaya membangun rumah sakit dengan pinjaman daerah adalah sesuatu yang melanggar aturan. Dari deretan pernyataan Walikota Tidore yang terkutip diatas, saya akhirnya mengingat penggalan Surah  Al-A’raf: “…….Mereka memiliki hati, tetapi tidak digunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah).  Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi.  Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf 179), wallahu a’lam bisshowab. Ternate, 21 September 2019

Bagikan

Komentar

News Feed