oleh

Ada Kekeliruan Pemkot dan DPRD Mengkaji Problem Kota Ternate

TERNATE,MSC-Wacana kerjsama Segitiga Emas pada sektor pariwisata yang rencananya akan diadakan kerjasama dengan Papua Barat dan Manado, sebagaimana disampaikan Wakil ketua I DPRD Kota Ternate, Henny Sutan Muda, bagi Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate ada kekeliruan dalam mengkaji problem yang melanda Kota Ternate saat ini.

Direktur Eksekutif Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI) Cabang Ternate, Ibrahim Yakub SE menilai, konsep segitiga emas yang pernah digagas antara Pemkot Ternate, Pemkot Tidore dan Pemda Kabupaten Halmahera Barat pada sektor pangan belum berjalan maksimal.

“Bahkan belum ada terobosan nyata secara ekonomi pada level masyarakat notabenenya yang bergerak di pertanian, bukti empiris kebutuhan Barito (Bawang,Rica dan Tomat) di Kota Ternate saja sebagian besarnya masih diimpor dari Manado,” kata Ibrahim Yakub dalam siaran pers yang diterima malutsatu.com, Jumat (29/11/2019).

Dia menilai, belum ada konsistensi pada kebijakan tiga pemerintah kabupaten/kota bersama DPRD dari masing-masing wilayah di sektor pangan, dibidang ekonomi yang ada wacana itu hanya di bunyikan saat momentum tiba, misalnya ketika PAD Kota mulai defisit dan juga konfigurasi politik hadir.

Ditambah lagi katanya, tata kelola Kota Ternate, Papua Barat dan Manado memiliki karakteristik demografi dan topografi yang berbeda, sehingga tidak semudah mengkonsepsikan segitiga emas pada aspek para wisatawan secepat demikian.

Lanjutnya, Ternate yang cenderung sumber ekonomi sebagian besar dari retribusi dan pajak ini belum mampu menggenjot PAD Kota. Dan katanya, masih rendahnya belanja pembangunan pada aspek infrastruktur (lapangan kerja).

“Faktanya bahwa kurang lebih 5000 pengangguran masih tersebar di Kota Ternate, harusnya DPRD mesti lebih cepat dan tanggap dalam menyelesaikan fenomena temporal seperti ini,” ujar Ibrahim Yakub. (red)

Bagikan

Komentar

News Feed