oleh

LOCKDOWN; Menaklukan Diri Sendiri

Oleh: Jhoe |  Pengurus DPW NasDem Maluku Utara

Dengan sejumlah pertimbangan, atas nama Pemerintah Republik Indonesia, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional akhirnya menetapkan Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona Di Indonesia. Dua halaman Keputusan Kepala BNPB dengan nomor 13.A Tahun 2020, dengan tegas menyatakan bahwa terhitung sejak tanggal 29 Februari hingga 29 Mei 2020, bangsa ini dalam kondisi siaga menghadapi wabah corona. Tentu dalam kegelisahan setiap warga bangsa akan terus mengikuti perkembangan infrofmasi terkini, sehinga menjadi sangat tidak penting untuk ditulis kembali.

Wabah yang merenggut banyak hal dari peradaban, bukanlah hal baru dalam sejarah manusia. Banyak catatan yang bisa ditemui perihal “armada bayangan”-meminjam istilah Yuval Noah Harari dalam bukunya ‘Homo Deus’ yang merenggut jutaan nyawa.

Pada tahun 1347, dunia dikepung bakteri Yersinia pestis, serangan wabah yang menewaskan hingga 60 persen penduduk Eropa ini kemudian dikenal dengan Black Death. Atau misalnya wabah cacar yang menyerang penduduk Amerika pada tahun 1492, serta deretan wabah lain seperti Kolera, Flu Spanyol (H1N1), SARS, Flu Babi, Ebola dan hari ini Covid-19, yang lebih ditakuti dengan nama Corona. Deretan catatan ini, seyogya memberikan kita pelajaran. Wabah berupa bakteri maupun virus, senantiasa datang dan melululantahkan peradaban tanpa ucapkan salam. Kesiapsediaan kita adalah keniscayaan, baik sebagai Negara, Pemerintah maupun masyarakat. Kondisi kita hari ini, dengan sangat telanjang menunjukan kealpaan, dan ketidaksiapan. Betapa kita gagap, panik dan abai pada kodrat kita sebagai makhluk berakal. Betapa pendekatan kita lebih pada tindakan spontanitas, bukan kesiap-sediaan berbasis akal sehat (base Scientific Approach). Ibarat sebuah peperangan, kita bertempur membabi buta seraya berharap memenangkan peperangan, tanpa mengetahui musuh yang kita hadapi.

Corona yang datang bak jelangkung, tidak serta-merta ada di Indonesia, secara resmi tersebutkan bahwa virus ini bermula di Wuhan China. Di era digital, tentu kecepatan informasi membuat kita lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi, lantas secara sadar menyiapkan diri menghadapi situasi tersebut. Ataukah warga bangsa ini tidak pernah mengetahui bahwa ribuan tenaga kerja asing yang ada di negara ini berasal dari China? Ataukah rasa kemanusiaan kita sudah di titik nadir untuk sekdar mencari infomasi tentang wabah yang menimpa warga dunia?, padahal disitus https://id.wikipedia.org, dengan sederhana menjelaskan tentang virus yang telah ditemukan sejak tahun 1960. Keterbatasan pengetahuan adalah sumber utama kepanikan massal, sekaligus menjadi asbab kita turut serta membantu menyebarluaskan wabah ini. Secara sederhana wikipedia menggambarkan “bahwa Penularan koronavirus dari manusia ke manusia diperkirakan terjadi melalui kontak langsung dalam jarak dekat via tetesan kecil atau percikan (droplet) dari saluran pernapasan yang dihasilkan penderita saat bersin dan batuk. Sebagai makhluk berakal, kita tentu meresponnya dengan waras, memutuskan apa yang harus dilakukan secara sadar untuk tidak tertular wabah tersebut.

Pemerintah tentu patut kita kritisi, dengan kebijakan publik negara dalam menangani wabah corona. Akan tetapi disini yang lain, kawarasan kita lebih penting dalam menghadapi situasi ini. Pilihan sadar untuk hidup sehat, meningkatkan imunitas, membatasi interaksi (social distancing), merupakan keniscayaan, bukan perkara suka atau tidak. Pilihan untuk tidak terkena wabah, bersumber dari pengetahuan yang dimiliki. Lebih dari itu, adalah wujud tanggungjawab kemanusiaan kita, bentuk paling nyata dari kecintaan kita pada orang-orang disekitar kita.

Teramat banyak seruan untuk mencegah wabah corona merenggut lebih banyak nyawa, menjadi kewajiban yang harus di kerjakan hari ini, dan tak bisa di tunda. Teriakan LockDown agar segera dilakukan Pemerintah, mestinya dimulai dari keberanian kita untuk menaklukan diri kita sendiri. Seluruh jalur keluar masuk ditutup, tak ada lagi perpindahan manusia antar wilayah, tidak menggaransikan wabah ini akan berakhir segera, jika saya, anda, kita, masih gagal menaklukan diri kita sendiri untuk patuh, tidak membatasi interaksi, serta turut menyebarkan informasi yang tak pasti. Beranilah memulai LockDown dari diri dan rumah kita sendiri. Semoga kita sekalian senantiasa dalam selamat sejahtera dan sentosa, tetaplah soliter dan solider sebagai wujud kita masih waras sebagai makhluk bumi. Marilah kita berdoa, bagi mereka yang saat ini berjuang di garda terdepan melawan wabah, bagi mereka yang saat ini dalam masa penyembuhan, dan bagi keluarga penderita yang telah meninggal dunia dibari ketabahan.

Bagikan

Komentar

News Feed