oleh

Dampak Covid-19 Terhadap Sektor Perikanan Maluku Utara

Pandemi COVID-19 mengubah banyak hal. Tidak terkecuali juga di sector perikanan, biaya operasional tidak berimbang dengan harga ikan yang terus menurun. Terjadi kelebihan stok seiring lesuhnya permintaan pasar baik domestik maupun ekspor”.

TERNATE,MSC-Adanya kebijakan Penanganan Covid-19 antara lain Social Distancing, Physical DistancingWork From ­­­Home, dan pembatasan berkumpul turut memberi dampak terhadap menurunnya demand  produk perikanan.

Sebab disatu sisi produksi perikanan saat ini mengalami oversupply, sehingga berakibat adanya ketidakpastian pelaku perikanan dan pasar serta perubahan jalur distribusi produk perikanan.

“Kondisi seperti ini juga ikut terasa pada aktivitas usaha perikanan di Provinsi Maluku Utara,” ungkap Kepala Dinas Kelutan dan Perikanan (DPK) Provinsi Maluku Utara, Buyung Radjiloen kepada malusatu, Minggu (12/4/2020) di Ternate.

Buyung mengatakan, menurunnya daya beli masyarakat terhadap produk ikan segar yang ada di pasar-pasar ikan lokal terpantau sepi dan aktifitas pembelian ikan untuk pemenuhan konsumsi ikan masyarakat saat tidak berjalan sepanjang hari tapi pada di jam-jam tertentu saja yaitu pagi dan sore hari.

Hal ini akibat adanya kebijakan penanganan pandemi covid-19 yang sudah diterapkan di seluruh kabupaten dan kota di Maluku Utara. Di satu sisi beberapa gudang penyimpanan ikan (Cold storage), dari hasil pemantauan kata Buyung Radjiloen terjadi penumpukan bahan baku ikan atau over stock dan sementara ini belum dapat disuplai ke luar daerah sebagaimana biasanya.

Buyung juga mengatakan, dari hasil pendataan yang dilakukan DKP, stok untuk pemenuhan konsumsi di bulan April ini masih dapat dipenuhi bahkan terjadi kelebihan stok kurang lebih sekitar 241 ton dari kebutuhan konsumsi ikan total Maluku Utara sebesar 1.602,40 ton/bulan.

“Namun demikian, akibat dampak pendemi covid-19 yang saat ini juga melanda provinsi Maluku Utara berimplikasi terhadap menurunnya penyerapan bahan baku ikan yang tertampung di Unit Pengolahan Ikan (UPI) dan mengancam tidak beroperasinya beberapa perusahaan ikan atau UPI ini sehingga turut pula mengganggu aktifitas penjualan hasil tangkapan nelayan kita,”katanya.

Menurutnya, kondisi dimana daya beli masyarakat menurun, penyerapan bahan baku yang tidak stabil serta ancaman terhadap aktifitas nelayan tentu sangat mengganggu pemenuhan stok ikan untuk konsumsi masyarakat khususnya untuk bu­­­lan Mei dan Juni.

“Apalagi di 2 (dua) bulan kedepan ini kita masih dihadapi dengan pandemi Covid-19 dan juga memasuki Bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1441 H yang biasanya meningkat permintaan akan kebutuhan bahan baku ikan di Maluku Utara,”sebut Buyung Radjiloen.(red)

Bagikan

Komentar

News Feed