oleh

Kontestasi Politik Ternate : Berebut Representasi dan Simbolisasi

Herman Oesman

(Dosen Departemen Sosiologi FISIP UMMU)-

Dalam perhelatan politik, titik imbang yang paling dijaga bagi pelaku politik adalah : representasi dan simbolisasi.

Politik representasi kerap mewartakan adagium keseimbangan antara dua kutub yang memiliki daya tarik, walaupun itu belum menjadi cermin ideal bagi sebuah demokrasi.  Selain untuk meraup simpati, dukungan, dan tentu suara, pada sisi lain, kutub-kutub representasi ini dimaksudkan untuk “mengunci” agar tidak terjadi polarisasi dan klaim yang tajam antara pihak/aktor yang berkompetisi.

Sementara simbolisasi mengartikan politisi harus dapat merawat simbol-simbol yang menguatkan nilai tawarnya. Apalagi simbol itu lebih berkaitan dengan akumulasi kekuatan sosial politik.

Panggung kontestasi politik Kota Ternate sejak era H. Syamsir Andili hingga H. Burhan Abdurrahman (dan mungkin sampai kini),  saya melihat ada dua faktor penting : representasi dan simbolisasi,  terutama berhubungan dengan etnisitas,  dalam hal ini Ternate.

Representasi dan simbolisasi kerap menjadi penentu bagi kemenangan suatu figur. Meski pada sisi lain, faktor-faktor ini tak selamanya menjadi kunci bagi figur lain. Beberapa indikator memperlihatkan dengan jelas, berapa kali dalam kontestasi,  pasangan tertentu, yang menggandeng gam madihutu, kita mungkin punya referensi tentang ini, ternyata mengalami kekalahan.

Representasi mencerminkan sebuah dukungan atas figur tertentu oleh warga masyarakat Kota Ternate. Toh,  ini belum sepenuhnya final,  diperlukan sebuah dukungan simbolisasi. Dukungan simbolisasi dalam konteks ini merupakan pemilik suara otoritas tradisional yang memiliki pengaruh kuat ke seluruh unsur di warga maayarakat Kota Ternate,  terutama yang berbasis masyarakat adat.

Ini dapat saja terjadi sebagai implikasi konsensus sosiologis.  Tapi lebih dari itu, bagi saya lebih merupakan upaya menjaga keseimbangan politik di tubuh pemilih dan warga masyarakat Kota Ternate, terutama pada basis masyarakat adat.

Jadi,  sangat tergantung pada aktor yang bersangkutan,  jejaring,  dan tentu mesin politik untuk bekerja secara kuat dan maksimal.

Bagi Kota Ternate,  di masa mendatang, masa depan demokrasi lebih ditentukan kemampuan figur yang memiliki gagasan,  dan tentu saja tingkat jejaring,  serta keterterimaan pada semua kalangan yang menjadi daya rekat bagi kemajemukan warga Kota Ternate. 

Politik etnisitas perlahan-lahan akan ditinggalkan, karena akan tidak sejalan dengan spirit dan nafas tatanan demokrasi modern. Karena itu, figur harus memiliki spirit transformatif…

Bagikan

Komentar

News Feed