oleh

IDI Maluku Utara Minta Pemda Pertimbangkan Belajar Tatap Muka

TERNATE,MSC-Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Maluku Utara meminta pemerintah daerah di Maluku Utara agar mempertimbangkan rencana kegiatan pembelajaran secara tatap muka di masa pandemi Covid-19.

Apalagi Maluku Utara hampir secara keseluruan kini berada di zona oranje, terkecuali Kabupaten Pulau Taliabu yang masuk zona hijau. “Hanya Taliabu yang berada di zona hijau sejak awal,”kata Ketua IDI Maluku Utara, dr Alwia Assagaf kepada wartawan di Ternate, Rabu (19/8/2020).

Selain itu, terdapat 6 wilayah di Maluku Utara yang masuk zona oranje, sedangkan kota Tidore Kepulauan sejak Agustus kembali berada di zona merah. Sebab dari jumlah pasien positif di wilayah tersebut mengalami peningkatan.

“Untuk sekolah yang berada di zona merah, kuning dan oranye masih harus belajar dari rumah atau secara online. Sedangkan sekolah yang ada di wilayah zona hijau dibolehkan sekolah tatap muka,”kata dr Alwia Assagaf.

Ada empat kategori wilayah terkait penyebaran Covid-19, yaitu wilayah risiko tinggi yang ditandai dengan zona merah, risiko sedang ditandai dengan zona oranye. Kemudian, risiko rendah dengan zona kuning, dan zona hijau yang menjelaskan kabupaten/kota tidak atau belum terdampak.

“Selain menandai status bahaya dari sebuah wilayah yang terpapar Covid-19, zona warna juga digunakan untuk menandai protokol kesehatan yang harus diterapkan dan dipatuhi,”sebut dr Alwia Assagaf yang juga juru bicara Gugus Tugas Malut.

Menurut dr Alwia Assagaf, selain lanjut usia memiliki resiko anak juga sangat berisiko tinggi tertular dan menularkan. Sehingga itu IDI melalui Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) masih tetap tidak mengingkan agar pemerintah membuka sekolah dengan tata muka.

Secara nasional lanjut dr Alwia Assagaf, ada sejumlah alasan mengapa anak harus tetap belajar dari rumah. Salah satunya, kematian anak Indonesia akibat Covid-19 saat ini paling tinggi dibanding negara-negara di Asia Pasifik.

Sedangkan di Maluku Utara sendiri, terdapat 96 orang anak yang telah tercapar Corona (Covid-19), dengan usia terbanyak usia 6 sampai 17 tahun. Jumlah tersebut mencapai 5,7 persen dari total kasus positif Covid-19 di Maluku Utara.

Dari 96 orang anak yang terpapar corona terdapat satu kasus kematian anak asal kota Tidore Kepulauan berumur 2 tahun. “Memang ada penyakit atau kelainan sejak lahir, dan itu membuat imunitas tubuh menurun hingga terpapar corona,”sebut dr Alwia Assagaf.

Kendati kasus angka kematian anak yang diduga terkait virus corona di Maluku Utara baru satu kasus, akan tetapi dr Alwia Assagaf meminta perhatian ekstra orang tua terhadap anak.

Diakuinya, saat ini ada keresahan orang tua dengan sistim belajar secara online, karena tidak semua orang tua memiliki pulsa data. Akan tetapi, IDI dan IDAI lebih mempertimbangkan kesehatan anak bangsa. (red)

Bagikan

Komentar

News Feed