oleh

MAKNA KARYA LAGU TORANG GPM SEBAGAI KADO SPESIAL DARI MAYAU UNTUK GPM

Oleh: Vega Ricky Salu

Pencipta Lagu Torang GPM, Dosen IAKN Ambon, Musisi Tali Dua Batang Dua

Enam hari sebelum tanggal enam September 2020 karya Torang GPM berhasil diciptakan dan mulai dikerjakan sejak tanggal dua September, baik proses perekamannya, pengambilan gambar, mixing, pengeditan video hingga Sabtu 5 September 2020. Sebagai manusia biasa dan terbatas hal tersebut adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin dilakukan. Apalagi pembuatan karya ini atas kemauan sendiri. Namun, atas campur tangan Tuhan Yesus Guru musik yang Agung, akhirnya karya ini dapat diselesaikan tepat pada hari sabtu 5, September 2020 sekitar jam 6 sore. Adapun pendukung karya lagu Torang GPM terdiri atas 4 vocalis dan puluhan penari tradisi dan juga penari koreo lagunya.

Lagu Torang GPM merupakan sebuah lagu yang mendeskripsikan eksistensi masyarakat di Pulau Batang Dua khususnya GPM Efata Mayau dan Ebenhaezer Tifure, sebagai jemaat yang hidup diwilayah terluar dan berada dizona perbatasan Maluku Utara dan Sulawesi Utara. Kehadiran Gereja Protestan Maluku di Mayau merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah masuknya injil di Batang Dua. GPM telah mengakar sebagai bagian dari gereja orang basudara sebelum adanya bangunan gereja secara fisik di Mayau.

Oleh karena itu, karya Lagu Torang GPM merupakan sebuah penanda yang menghubungkan makna dan cerita nyata peran GPM ditengah masyarakat Batang Dua sejak dahulu kala. Karya ini sepenuhnya menunjukan semangat dalam mengobarkan identitas GPM di Mayau serta terus menjaga api injil dari utara agar tidak akan padam ditelan peradaban saman yang semakin modern ini.

Beberapa makna penting dari teks lagu Torang GPM yang diciptakan ditengah pandemic covid- 19 ini, mengandung pesan damai, yang dikumandangkan dari pulau terapung anyor anyor Mayau. Pesan damai tersebut seakan merangkul setiap kelompok etnis, pluralitas Agama di Maluku Utara, perbedaan denominasi Gereja, perbedaan strata sosial dan sebaiknya menjadi satu kesatuan sebagai orang basudara (Ngomi Ngane Mayu Ma’agiidi) atau torang ini orang Mayau yang harus terus menjaga nilai kebersamaan selayaknya julukan Gereja Orang basudara bagi GPM khususnya ditengah pandemic covid ini.

Selain itu, dalam tampilan karya Torang GPM juga ada beberapa bentuk promosi budaya orang Batang Dua, baik budaya secara fisik maupun dalam konteks nilai. Sebut saja promosi alam, pantai Mayau, keberadaan pohon beringin yang sudah puluhan tahun (ikon Mayau), serta pasir putih yang terbentang luas ditepian pantai Mayau.

Sedangkan promosi budaya dalam aspek nilai seni adalah melalui kolaborasi musik pop dan tradisional yang diekspresikan melalui tarian orang Mayau dan tampilan musik Tali Dua sebagai kekayaan budaya orang Batang Dua yang wajib dijaga dan dikonservasi terus menerus.

Pemaknaan terhadap lagu Torang GPM juga tidak dapat dilepaspisahkan dari usaha penulis lagu untuk tetap mengajak anggota jemaat Gereja ini, agar tetap menggelorakan semangat melayani, termasuk di pulau-pulau, untuk terus mencintai Gereja ini, merasa bangga menjadi bagian Gereja ini, untuk terus memaknai tugas menanam dan menyiram sebagai tanggung jawab mutlak ditengah dunia yang semakin tua ini. Salam damai dari Mayau. Torang GPM.

Bagikan

Komentar

News Feed