oleh

Hanya di PT IWIP Nyawa Manusia Tidak Berharga

TERNATE-Tingginya angka kecelakaan kerja di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah, Maluku Utara, dinilai tidak disiplin perusahaan pertambangan itu minim dalam penerapan kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Koordinator Konsorsium Advokasi Tambang (KATAM) Maluku Utara (Malut), Muhlis Ibrahim menilai, salah satu aspek penting yang harus dipenuhi oleh sebuah perusahaan tambang dalam menjalankan usaha pertambangan adalah mewujudkan kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk para karyawan.

“Saya bisa katankan, hanya di PT IWIP nyawa manusia tidak berharga, sudah banyak karyawan yang mengalami kecelakaan dalam bekerja bahkan meninggal dunia tanpa ada upaya perbaikan,”kata Muhlis Ibrahim kepada maslutsatu.com, Kamis (7/4/2022) di Ternate.

Aktivis tambang itu menuturkan, adalah kejahatan kemanusiaan yang dilakukan PT IWIP karena kecelakaan kerja berulang-ulang yang menyebabkan kehilangan nyawa para pekerja karena penerapan prinsip K3 yang buruk.

Dikatakan, tingginya angka lecelakaan kerja di PT IWIP ini bisa disimpulkan bahwa penerapan sistem K3 sangat buruk diterapkan pada perusahaan industri bekelas internasional tersebut.

Jika dibandingkan dengan perusahaan lain di Maluku Utara kata Muhlis Ibrahim, sangat minim bahkan nyaris tidak ada angka kecelakaan. Hal ini berbeda dengan PT IWIP, sehinga itu harus ada perhatian pemerintah.

Untuk saat ini kata Muhlis, sebaiknya pemerintah menghentikan sementara aktivitas di PT IWIP untuk mengevaluasi secara total manajemen K3 di perusahaan itu. “Ini persoalan serius yang harus ditanggapi baik manajemen maupun Pemerintah,”tegasnya.

Muhlis Ibrahim juga mempertanyakan eksistensi organisasi atau federasi buruh yang begitu banyak, tetapi sampai saat ini adakah yang serius memperjuangkan nasib para pekerjaan/buruh terutama keselamatan dalam bekerja.

Muhlis mempertanyaan bagimana pemerintah melakukan evaluasi terhadap pengawas lapangan. Setidaknya para pengawas dan driver alat berat sudah terserifikasi kompetensinya.

Seperti diketahui, sejumlah pekerja di PT IWIP yang mengalami kecelakaan yang diduga tidak ada penanganan serius di kalangan Perusahaan sendiri maupun pihak terkait. “Pihak perusahaan sering saja mengakali dengan sementara investigasi, penyebab kecelakaan juga darai beberaa kasus ditangani pihak Kepolisian juga begitu-begitu saja,”sebutnya.

Beberapa kecelakaan yang sempat dicatat diantaranya, Kecelakaan kerja terjadi pada Sabtu (2/4/) sekitar pukul 07.00 WIT di areal perusahaan PT IWIP tepatnya di KM 0 persimpangan antara smelter L dan smelter K mengakibatkan 11 orang luka ringan dan berat.

Kecelakaan pada 26 Agustus 2021 di kawasan industri pukul 07.15 WIT yang menimpa dua pekerja. Satu pekerja meninggal dunia di tempat, sementara satu pekerja lainnya mengalami luka-luka dan telah dirujuk ke RSUD Chasan Boesoirie Ternate. Korban meninggal dunia diketahui atas nama Julfikar Alwi asal Desa Tauno, Kecamatan Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan.

Kecelakaan kerja kembali terjadi di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), peristiwa ini pun menelan korban jiwa . Seorang karyawan PT IWIP bernama Mulyono Rajaban (18) bekerja sebagai Machine Operator dan merupakan warga Desa Hatebicara, Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat, meninggal dunia setelah terjepit alat overhead crane pada Sabtu, (25/12/2021).

Selain itu , salah satu karyawan PT IWIP atas nama Iksan Yahya asal Kecamatan Gane Barat Kabupaten Halmahera Selatan mengalami kecelakaan kerja ditempat korban ditugaskan  di feronikel pembuangan limbah.

Kecelakaan tersebut korban langsung dibawah ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasan Basoeri Ternate, karena korban mengalami luka bakar dibagian tangan kiri dan tulang kaki kanan patah serta luka parah dikedua kaki-nya. (red)

Bagikan

Komentar