MALUTSATU,TERNATE-Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara merillis, nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Maluku Utara pada Oktober 2026 tercatat sebesar 100,80. Angka ini naik 0,82 persen dibandingkan bulan sebelumnya, September 2026, yang sebesar 99,98.
Dalam rilis BPS Provinsi Maluku Utara yang disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, Harim Arrosid, pada Rabu, 4 November 2026
Indikator ini digunakan untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di daerah perdesaan, sekaligus daya tukar produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.
Harim menyebut, kenaikan NTP ini menandakan daya beli petani membaik. Pada September, NTP masih berada di bawah angka 100, yang berarti harga yang harus dibayar petani lebih besar dari harga yang diterima. Pada Oktober, posisi itu berbalik. Petani mulai surplus.
“Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga menunjukkan tren yang sama. Pada Oktober 2026, NTUP Maluku Utara sebesar 104,77, naik 1,24 persen dibandingkan September 2026 yang sebesar 103,48,”katanya.
Berbeda dengan NTP, NTUP hanya menghitung biaya produksi pertanian, tanpa memasukkan biaya konsumsi rumah tangga. Kenaikan NTUP ini menunjukkan usaha tani di Maluku Utara semakin menguntungkan.
Sementara itu, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Maluku Utara tercatat sebesar 136,71 pada Oktober 2026, naik 0,38 persen dibandingkan September 2026 yang sebesar 136,19.
Kenaikan ini kata Harim Arrosid menandakan biaya hidup di perdesaan juga ikut naik, namun kenaikannya masih lebih kecil dibandingkan kenaikan harga jual hasil pertanian.
Berdasarkan pemantauan harga-harga perdesaan pada 7 kabupaten di Provinsi Maluku Utara, kenaikan NTP Oktober 2026 disumbang oleh 4 subsektor.
Dia menjelaskan, subsektor Tanaman Hortikultura menjadi penyumbang kenaikan terbesar, yakni sebesar 6,31 persen. Disusul Subsektor Perikanan sebesar 2,16 persen, Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,96 persen, dan Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,27 persen.
“Sementara itu, 1 subsektor mengalami penurunan, yakni Subsektor Peternakan sebesar 0,26 persen,”ujar Harim Arrosid.
Dengan capaian ini, petani Maluku Utara kembali berada pada posisi yang lebih baik setelah sempat tertekan pada September lalu. Kenaikan harga di subsektor hortikultura dan perikanan menjadi penopang utama pemulihan daya beli petani di daerah. (red)






Komentar