MALUTSATU,TERNATE- Lahan kering, panen gagal, stok di pasar menipis. Itulah yang terjadi pada petani Maluku Utara akibat kemarau Panjang. Tapi justru karena barang menjadi langka, harga tomat, cabai rawit, dan jagung melambung.
Musim kemarau panjang yang menghantam lahan pertanian Maluku Utara pada Triwulan III-2026 ternyata punya dua wajah. Kemarau membuat produksi pertanian hanya tumbuh 1,17 persen, justru membuat harga naik karena stok terbatas.
Akibatnya, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Oktober 2026 naik 0,82 persen menjadi 100,80 — bukan karena panen melimpah, tapi karena barang langka.
Dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Maluku Utara, Kepala BPS Maluku Utara, Harim Arrosid, menyebutkan Pertanian hanya tumbuh 1,17 persen pada Triwulan III-2026. Padahal Triwulan II-2026 masih tumbuh 4,11 persen dan Triwulan I-2026 masih tumbuh 4,24 persen.
“Pertumbuhan pada lapangan usaha ini mengalami perlambatan pada triwulan ini dikarenakan musim kemarau yang panjang menyebabkan terjadinya kekeringan pada lahan pertanian serta menurunkan produksi di sebagian besar komoditas pertanian,” kata Harim Arrosid.
Lahan kering, tanaman layu, sebagian petani gagal panen. Yang menjadi penopang Pertanian justru komoditas kayu, karena kayu tidak butuh air sebanyak padi dan sayur.
Ketika pasokan berkurang, hukum pasar bekerja. Barang langka, harga naik. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 1,03 persen menjadi 136,79. Sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik 0,21 persen menjadi 135,70. Biaya produksi (BPPBM) malah turun -0,21 persen.
Kenaikan NTP disumbang Hortikultura sebesar 6,31 persen, didorong harga sayur-sayuran naik 10,37 persen, terutama tomat dan cabai rawit. Tanaman Pangan naik 0,96 persen, didorong palawija terutama jagung yang naik 2,19 persen. Perkebunan Rakyat naik 0,27 persen, didorong biji pala. Perikanan naik 2,16 persen karena biaya turun -1,83 persen. Satu-satunya yang turun adalah Peternakan -0,26 persen.
NTP naik tidak berarti semua petani panennya bagus. Petani yang masih punya tomat, cabai, jagung, dan pala yang selamat dari kemarau, dia untung besar karena harga jualnya naik.
Tapi petani yang gagal panen, tidak punya barang untuk dijual. Harga naik setinggi apapun tidak menolong dia.
Itulah kenapa PDRB Pertanian hanya tumbuh 1,17 persen, tapi NTP bisa naik ke 100,80. Petani Maluku Utara pada Oktober 2026 bukan bertahan karena panennya melimpah. Mereka bertahan karena harga. (red)






Komentar