oleh

Dr Aziz Hasyim SE. M.Si : Pertumbuhan Ekonomi Malut Tidak Produktif

TERNATE-Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Khairun (Unkhair) Ternate Dr Aziz Hasyim SE. M.Si menilai, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tidak produktif, karena tidak berimplikasi terhadap penurunan angka pengangguran dan angka kemiskinan.

Dikatakan tingginya pertumbuhan ekonomi harus juga diimbangi dengan penurunan angka penagguran dan angka kemiskinan. “Maka ada yang salah di situ, salahnya apa pertumbuhan ekonomi tidak disertai dengan penurunan angka pengangguran dan kemiskinan,”ungkap Aziz Hasyim kepada malutsatu.com, Selasa (22/6/2021) di Ternate.

Menurut Doktor Bidang Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan, Institut Pertanian Bogor itu, pertumbuhan ekonomi meningkat, angka pengangguran dan angka kemiskinan meningkat, kalau seperti itu jawabanya sederhana saja ekonomi Maluku Utara yang tumbuh tidak produktif.

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat didorong oleh sektor pertambangan, pengolahan serta ekspor Luar Negeri (LN) mengapa tidak berimplikasi terhadap masyarakat, kata Aziz salah satunya rekrutmen tenaga kerja di pertambangan lebih banyak tenaga kerja dari luar Maluku Utara dibandikan penduduk lokal.

Jumlah tenaga kerja yang diserap dari sektor pertambangan saat ini yang didatangkan dari luar daerah, jika dikonfersikan maka jumlahnya akan turun. Kecuali lanjut Aziz jumlah tenaga kerja lokal lebih banyak direktur akan berimplikasi pada turunya angka pengangguran di disertai dengan tingkat kemiskinan juga turun.

“Jadi pertumbuhan ekonomi Maluku Utara meningkat saat ini bagi saya adalah hal yang biasa-biasa saja, karena tidak diimbangi dengan turunnya angka kemiskinan dan angka pengangguran,”sebutnya.

Data BPS Maluku Utara, ekonomi Maluku Utara tahun 2020 tumbuh 4,92 persen lebih rendah dibanding capaian tahun 2019 yang sebesar 6,10 persen. Namun demikian, Maluku Utara  merupakan salah satu dari 3 Provinsi yang tumbuh positif pada tahun 2020. Bahkan data terbaru BPS, ekonomi Maluku Utara triwulan I-2021 bila dibandingkan triwulan I-2020 (y-on-y) tumbuh 13,45 persen.

Dari sisi produksi pertumbuhan didorong oleh sebelas kategori, dengan pertumbuhan tertnggi dicapai oleh Kategori Pertambangan dan Penggalian yang tumbuh sebesar 93,84 persen. Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertnggi dicapai oleh komponen Ekspor Luar Negeri (Ekspor LN) sebesar 306,48 persen.

Sementara itu, jumlah penduduk miskin di Maluku Utara pada September 2020 sebesar 87,52 ribu orang (6,97 persen) bertambah sekitar 1,15 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2020 yang sebesar 86,37 ribu orang (6,78 persen).

Untuk garis kemiskinan Maluku Utara Pada September 2020 adalah Rp 469.596 per kapita, naik sebesar Rp 6.957,00 atau 1,5 persen dibandingkan GK pada bulan Maret 2020 yang bernilai Rp 462.639,00.

Sedangkan pada Februari 2021 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Maluku Utara sebesar 5,06 persen. Dimana Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2021 tercatat sebesar 5,06 persen, naik sebesar 0,97 persen poin dibandingkan TPT Februari 2020 (4,09 persen) sejalan dengan penurunan TPAK.

TPT menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan pada Februari 2021 didominasi oleh lulusan SMA yaitu sebesar 9,42 persen. Dan Penduduk bekerja di Maluku Utara pada Februari 2021 tercatat sebanyak 558,5 ribu orang. Jumlah tersebut naik sebanyak 3,2 ribu orang dibandingkan Februari 2020 sebanyak 555,3 ribu orang). Dan sebesar 6,89 persen dari penduduk usia kerja diketahui terdampak Pandemi Covid-19 pada Februari 2021. (red)

Bagikan

Komentar

News Feed