oleh

Survei LSI Denny JA : MHB-GAS Menang Pilwako Ternate, YAMIN ADA Juru Kunci

TERNATE,MSC-Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis Muhammad Hasan Bay-Mohammad Asghar Saleh (MHB GAS) berpotensi memenangi pertarungan pilkada walikota dan wakil walikota Ternate, 9 Desember 2020.

Peneliti senior LSI, Adjie Alfaraby mengatakan, pasangan yang diusung partai Golkar, Gerindra, Hanura dan partai Gelora sebagai partai pendukung diprediksi meraih suara 31,3 persen, disusul Merlisa-Judhi (MAJU) dengan sebesar 22.5 persen, pasangan Tauhid Soleman-Jasri Usman (TULUS) sebesar 20.7 persen, dan terakhir M.Yamin Tawary-Abdullah Tahir (Yamin-Ada) sebesar 13.2 persen.

“Dan yang belum menentukan pilihan sebesar 12.3 persen. Dan tersisa 5 hari perubahan angka tersebut sangat kecil kemungkinan,” ujar Adjie dalam jumpa pers temuan terkini Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA terkait Pilkada Kota Ternate, Jumat (4/12) sore, di Ternate Room Sahid Bella Hotel.

Sebab katanya, jika mereka yang belum menentukan pilihan sebesar 12.3 persen dibagi secara proporsional (karena di saat hari H tidak ada lagi yang belum menentukan pilihan), maka elektabilitas MHB-GAS naik menjadi sebesar 35.7 persen, MAJU sebesar 25.7 persen, TULUS sebesar 23.6 persen, dan Yamin-ADA sebesar 15 persen. Selisih antara pasangan MHB-GAS dengan kompetitor terdekat pasangan MAJU sebesar kurang lebih 10 persen.

Survei yang dilakukan pada tanggal 22-28 November 2020 dengan 440 responden ini menempatkan Paslon nomor urut tiga Muhammad Hasan Bay – Mohammad Asghar Saleh (MHB-GASS) berpotensi memenangi pertarungan pilkada walikota dan wakil walikota Ternate.

Adjie Alfaraby menyatakan, Survei dikerjakan melalui wawancara tatap muka (face to face interview) dengan estimasi margin of error sebesar 4.8 persen. Kisaran dukungan (range), lanjutnya, dukungan para kandidat berdasarkan hitungan plus minus margin of error (MoE) survei sebesar 4.8 persen.

Dengan demikian prediksi range dukungan pasangan MHB-GAS adalah sebesar 30.9- 40.5 persen, range dukungan pasangan MAJU sebesar 20.9-30.5 persen, range dukungan pasangan TULUS sebesar 18.8-28.4 persen, dan range dukunngan pasangan Yamin-ADA sebesar 10.2 -19.8 persen.

“Artinya dengan range dukungan tersebut, dengan data survei akhir November 2020, yang paling berpotensi menang adalah pasangan MHB-GAS. Di posisi kedua dan ketiga masih diperebutkan oleh pasangan MAJU dan pasangan TULUS. Artinya pasangan TULUS masih berpotensi menyalip dukungan pasangan MAJU, karena selisih kedua pasangan kandidat tersebut sangat ketat. Dan posisi terakhir adalah pasangan Yamin-ADA,” paparnya.

Ada tiga alasan pasangan yang diusung partai Golkar, Gerindra dan Hanura ini unggul dan berpotensi menang di Pilkada Kota Ternate, yakni pertama, MHB-GAS sosok paling disukai. Meskipun popularitas semua calon walikota rata-rata sudah diatas 90 persen, tapi MHB adalah calon walikota yang paling tinggi tingkat kesukaan mencapai 69.8 persen. Semntara untuk calon wakil walikota, Asghar Saleh adalah calon wakil walikota dengan tingkat kesukaan tertinggi mencapai 66.7 persen.

Kedua, lanjutnya, MHB unggul semua aspek personality dibanding calon walikota lainnya. Ada 8 (delapan) aspek personality yang diuji untuk keempat calon walikota. Kedelapan aspek tersebut antara lain menyenangkan, jujur, pintar, mampu mengambil keputusan dengan tegas, berwibawa sebagai pemimpin, perhatian kepada rakyat, taat beragama, dermawan dan suka menolong.

Persepsi MHB menyenangkan 64.4 persen, jujur 58.3 persen, pintar 74.3 persen, mampu mengambil keputusan tegas 60.8 persen, berwibawa sebagai pemimpin 66.1 persen, perhatian kepada rakyat 59.8 persen, taat beragama 60 persen, dermawan dan suka menolong 60 persen.

Sementara yang ketiga Lanjut Adjie, MHB-GAS dipersepsikan didukung oleh petahana. Dalam pilkada yang tidak diikuti lagi oleh petahana dua periode, dukungan petahana sangat berpengaruh.

Meskipun demikian, ada dua faktor yang bisa mempengaruhi dukungan menjelang hari H. Pertama, adanya mobilisasi maha dahsyat/skala besar oleh kandidat tertentu di akhir menjelang pemilihan. Namun jika mobilisasi antar kandidat terjadi secara normal, atau tidak ada yang sangat menonjol maka peta dukungan tidak akan berubah signifikan.

“Partisipasi dan golput di hari H. Survei tak mampu secara akurat mengukur tingkat golput, jika golput pemilih kandidat proporsional maka dukungan tak banyak berubah. Jika golput tidak proporsional tentunya akan mempengaruhi dukungan,” sebutnya. (red)

Bagikan

Komentar

News Feed