oleh

Sejumlah Aktivis Kristen di Maluku Utara Minta DKPP Copot Adrian Neleng

TERNATE-Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) meminta Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum (DKPP) mencopot Adrian Yoro Neleng sebagai anggota Bawaslu Provinsi Maluku Utara.

Hal itu disampaikan para aktivis Kristen ini melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Bawaslu Malut, Senin, 31 Juli 2023, terkait pernyataan anggota Adrian Yoro Naleng saat sidang pemeriksaan dugaan pelanggaran Kode Etik perkara Nomor : 91-PKE-DKPP/VI/2023 di Kantor KPU Provinsi Maluku Utara, Jumat 28 Juli 2023 lalu.

Sementara itu Koordinator Pengurus Wilayah XV GMKI Maluku Utara, Fandi Salasa saat hearing komisoner Bawaslu Malut menegaskan, pernyataan Adrian Yoro Naleng sesungguhnya hanya menutupi pelanggaran etik yang telah dilakukannya.

“Pernyataan Adrian Yoro Naleng itu bohong semua. Pernyataan ini hanya menutup kesalahan yang telah dilakukan Adrian,”ungkap Fandi Salasa

Menurut Fandi Salasa, pernyataan Adrian Neleng yang menyebut jika dirinya sejak dilantik sebagai anggota Bawaslu Malut sering diserang dengan isu-isu fundamental, seperi isu identitas, SARA, atau hoax yang terus berkembang di tengah masyarakat.

Menurut Salasa, isu fundamental yang jadikan tameng oleh Adrian saat sidang kode etik DKPP, sangatlah keliru. Sebab, GMKI dan GAMKI tidak pernah merasakan yang namanya isu-isu fundamental seperti yang dimaksudkan Adrian.

Untuk itu, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), tersinggung dengan keterangan Adrian Yoro Naleng ini. Dan pernyataan tidak layak keluar dari mulut komisoner Bawaslu, dan hanya membuat rusak berdemokrasi di Maluku Utara.

“GMKI dan GAMKI tidak pernah merasakan yang namanya didiskriminasi di Maluku Utara. Untuk itu, GMKI dan GAMKI meminta DKPP harus memberhentikan Adrian Yoro Naleng,” akhirnya.

Menurutnya, hasil kajian GMKI dan GAMKI, bahwa pernyataan Adrian Yoro Naleng sangat berbahaya dan sangat menyinggung. Ini pernyataan yang bisa memicu konflik yang lebih besar.

“Kita di Maluku Utara sudah damai dan tidak ada masalah, lalu Adrian Yoro Naleng datang dan menyebut bahwa dia diserang dengan isu-isu ini. Kami tentang dengan pernyataan Adrian ini,” sebut Fandi Salasa. (red)

Bagikan

Komentar