MALUTSATU,TERNATE-Nama Loela Drakel kembali menggema di panggung musik Maluku Utara. Penyanyi legendaris asal timur Indonesia ini dijadwalkan menggelar Konser Tunggal “Loela Drakel: The Legend dari Timur” pada Sabtu, 3 Januari 2025, bertempat di Laguna Cafe & Resto. Konser ini akan berlangsung mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIT.
Jelang Konser Tunggal, Malut Satu menurunkan tulisan tentang Loela yang ditulis oleh Asghar Saleh pada 20 Desember 2021 lalu.
Loela
Di timur, jejak peradaban dituliskan melalui lagu. Beragam genre. Cinta, pengorbanan, rindu, kesetiaan, ketaatan pada sang pencipta, kasih orang tua, semuanya saling memilin dalam lirik dan nada. Ribuan lagu diciptakan. Di antara yang ribuan itu, ada yang melegenda. Di puja orang ramai, meski belum tentu pernah bertemu penyanyinya. Dulu kita mendengar lagu lewat radio, ada lomba sana-sini, lalu kaset berpita suara jadi primadona sebelum digusur compact disk, dvd dan belakangan orang ramai menggunakan berbagai platform media sosial untuk menikmati lagu.
Lagu adalah karya seni yang rumit. Ia semacam “elaborasi” dari karya sastra lain semisal puisi. Perluasan di sini berarti ada amalgamasi dengan karya sastra yang lain. Jean Marie Bretagne menyebut, sebuah lagu adalah sastra yang sangat istimewa karena tempo lagu menciptakan kedalaman makna. Ia menggabungkan lirik dan melodi dalam sebuah harmoni yang berkesan. Sebuah lagu bisa saja tercipta dengan lebih dulu menuliskan lirik-lirik yang mempesona sebagaimana puisi – baru kemudian mencari nada yang pas atau sebaliknya.
ada satu kata memori
waktu ku masih bersamamu
kau dambaan hatiku
dan juga selalu ku puja…
Agar diterima orang ramai, proses ini tak berhenti di penciptaan tetapi harus berlanjut menentukan penyanyi dengan pilihan timbre suara yang sesuai. Tak hanya dengan nada tetapi juga “pendalaman” terhadap lirik. Banyak penyanyi baru berganti wajah. Ada yang meledak dan tetiba popular tetapi tak lama kemudian hilang. Ada yang bertahan di tengah badai persaingan yang tak surut. Yang bertahan itu punya sesuatu yang khusus. Yang membedakan dengan penyanyi lain. Ia biasanya hanya bernyanyi dengan lagu yang diciptakannya sendiri. Yang awet seperti itu terlihat pada sosok Ebiet G. Ade, Iwan Fals, Dedy Dores dan Loela Drakel.
Kisah tentang Loela bermula dari sebuah kampung bernama Face di daratan Sula. Putera pasangan Yusuf Drakel dan Sehat Bahanan ini lahir 12 September 1958. Saat berusia dua tahun, ayahnya berpulang. Ia tak “mengenal” ayahnya. Kehidupan keluarga jadi suram. Mamanya yang biasa disapa “Eya”-nama pendek dari Sehat sebagaimana panggilan sayang suaminya – mengambil alih tugas sebagai kepala rumah tangga. Biaya hidup Eya dan delapan anak yang dibesarkan sendirian didapat dari hasil menjahit. Jelas tak mencukupi. Karena itu, Loela dan saudaranya jarang makan nasi. Lebih banyak makan sinole. Dalam situasi sulit, Eya tetap mendorong anak-anaknya bersekolah meski menurut Loela, mereka tak bersepatu.
han in lal rasa banahi moya
baked pamena no sabatena tau e…
ana bawat inib gaiya
itaha boya dohama wai e…
Kegetiran hidupnya menginpirasi Loela untuk membuat lagu. “Ana Bawat” bercerita tentang derita anak yatim yang hidup serba susah. Lagu berbahasa Sanana ini adalah lagu pertama yang diciptakan saat dirinya kelas dua SMA. “Ana Bawat” juga untuk mengenang kegigihan Eya. Kegigihan yang mencambuk Loela muda untuk keluar dari belenggu kesulitan hidup. Ia bertekad jadi penyanyi. Darah seni mengalir dari kedua orang tuanya yang sering bermain gambus di kampung tiap ada kenduri. Anehnya, di antara delapan bersaudara, hanya Loela yang suka bernyanyi. Ia kerap juara tiap lomba nyanyi merayakan kemerdekaan Indonesia digelar di sekolahnya. Bakatnya terbentuk secara alami. Ia belajar musik secara otodidak. Tak heran ketika hendak pamit merintis karir sebagai penyanyi, Eya tak merestui pilihannya.
Tapi keinginan Loela tak bisa dibendung. Usai lulus SMA, Eya tak kuasa menahan langkah puteranya. Loela ingat betul momen sebelum kakinya menapaki perahu yang membawa dirinya ke kapal yang berlabuh. Eya memberi dua petuah penting. Jangan mencuri sesulit apapun hidup yang mesti dijalani dan jangan pulang ke kampung kalau gagal jadi penyanyi. Loela menceritakan ini dengan tatapan nanar, ada kesedihan yang mengantung. Tak hanya petuah itu, Eya ternyata menyerahkan segepok uang. Enam puluh ribu di penghujung dekade tujuhpuluhan adalah jumlah yang terbilang besar. Loela sempat menolak tapi netra tulus Eya membuat hatinya luluh.”Darimana uang ini Eya?, tanya Loela. “Mama jual mesin jahit” kata Eya.
Percakapan penuh cinta di atas pasir yang pasrah digempur ombak menusuk nurani Loela. Ia seperti dibanting realitas yang mencekik. Mesin jahit itu – yang bertahun lamanya jadi barang mewah di rumah “katu” berdinding anyaman bambu – dijual Eya untuk biaya Loela ke pulau Jawa. Penghujung 1977, Loela tiba di Jakarta. Tak ada sanak famili. Tak ada teman. Modal “nekat” menuntun langkah kakinya menuju masjid terbesar di Indonesia. Tak kurang dari empat tahun, Loela dan beberapa teman “tinggal” di masjid Istiqlal. Untuk makan, mereka kerja serabutan. Tak jarang ikut ngamen atau bernyanyi di acara kenduri warga. Di masjid ini pula, Loela menciptakan sebuah lagu berjudul “Gitar Tua”.
Loela sempat pulang ke Ternate mengikuti audisi bintang radio. Ia jadi yang terbaik di lomba tahun 1982. Lalu tawaran bernyanyi datang mengoda. Pintu dapur rekaman terbuka lebar. Bersama Indras, grup band legendaris asal Ternate, Loela menelurkan dua album lagu daerah yang direkam di Surabaya. Kita mengingat dengan guyub lagu ; momina jiko, reke duka dan talaga rano. Seingat Loela, album lagu daerah mereka kala itu adalah album kedua setelah sebelumnya almarhum Sultan Mudaffar Syah dan grup Ell Morogam merekam lagu-lagu daerah Maluku Utara. Salah satu hits dalam album ini adalah lagu “Lemo Lemo” yang dinyanyikan Sultan.
Setelah itu, musisi Bens Leo mengajak Loela rekaman di Lolypop Record. Lahirlah album perdana berbahasa Indonesia bertitel “Sampul Merah Muda”. Isinya cuma tiga lagu : Berenang dan Bercinta, Sampul Merah Muda dan Yang Dingin Kembali Hangat. Dalam rentang lebih dari empat dekade, nama Loela Drakel adalah pesona yang tak pudar. Ia ada dimana-mana. Di acara kawinan, di hajatan kampanye, di angkutan kota, juga di café dan tempat karaouke. Tak hanya di Ternate, suara khas Loela menjangkau Papua hingga Sumatera. Tawaran konser bergantian mengajak. Hampir semua pelosok Indonesia sudah disinggahi untuk bernyanyi. Jika tak sempat, kehadiran Loela diwakili puluhan kaset dan cd yang diputar warga dengan riang.
Musik dan lagu menurut Chrisye adalah interaksi dengan siapa kita berkarya dan untuk siapa kita berkarya. Mungkin dengan itu, Loela menemui orang ramai. Lagu-lagu ciptaannya yang dinyanyikan sendiri selalu mendapat tempat di antara banyak penyanyi terkenal yang mentas pada saat itu. Kekuatan liriknya membumi. Sederhana bertutur dan mewakili “rasa” orang ramai. Pilihan kosakata hiperbola yang digunakan membuat lagu-lagu ciptaannya terdengar makin romantis.
aku ini bukan pintu
yang selalu kau buka kau tutup
aku ini manusia
yang punya batas perasaan..
Sepanjang karir bermusik, tak kurang dari 300 album dibuat Loela. Sebagian besar dari album itu berisi lagu ciptaannya sendiri. Bisa dikata, dirinya telah menciptakan lebih dari 2000 lagu berbagai genre. Mulai dari pop hingga dangdut. Salah satu lagu dangdutnya yang lumayan hits berjudul ; Maimunah. Banyaknya lagu yang diciptakan membuat Loela kadang lupa lirik lagu-lagunya sendiri. Saat mau bernyanyi, kita mesti memberi beberapa lirik pengingat.
Album terlaris dalam karirnya bertitel “Anggur Merah 2”. Hingga kini, “Anggur Merah” telah mencapai enam album. Inspirasi lagu ini datang dari kisah cinta lewat pandangan pertama Loela pada seorang perempuan yang duduk di pojokan sebuah café tempatnya manggung. Mereka sempat berkenalan. Loela langsung jatuh cinta namun sejak malam itu, sosok perempuan yang “merebut” hatinya raib tanpa jejak.
anggur merah di genggamanku
pecah sudah dan membasahi bajuku
inikah ibarat dirimu telah diambil orang
Sukses sebagai penyanyi tak membuat Loela lupa diri. Ia tetap berkawan dengan siapa saja. Mungkin karena dulu hidup susah, Loela selalu berbagi dengan sesama. Uang bukan segalanya. Ia juga bisa mewujudkan mimpi Eya untuk bertemu artis idolanya ; Muksin dan Sandora. Lewat lagu, Loela juga menemukan cinta. Lagu “Anggrek Hitam” diciptakan dan dinyanyikan untuk seorang perempuan Papua yang Ia nikahi. Gegara lagu ini, nyawanya tertolong saat dirinya suatu ketika terjebak di daerah yang dikuasai Tentara Papua Merdeka. Di bawah todongan puluhan senjata api dan panah, Ia dikenali oleh komandan TPM. Loela diperlakukan sebagai sosok yang istimewa karena telah mengangkat harkat perempuan Papua.
Lagu pula yang menautkan kedekatannnya dengan Sinyo Harry Sarundajang. Walikota Bitung itu mengajaknya bergabung dalam tim kampanye saat pertama kali mengikuti pemilihan Gubernur. Sebuah pilihan yang tepat. Maklum. Semua angkutan kota di Manado dan beberapa kota utama di Sulawesi saban hari memutar lagu-lagu Loela dengan bunyi speaker yang kencang tiap kali melintasi jalanan. Orang ramai menghafal lagunya. Juga menyimpan suaranya dalam memori kolektif mereka. Setelah Sarundajang terpilih, suatu ketika Ia memanggil Loela ke ruang kerjanya. Loela diminta menyiapkan berkas berisi data diri. Sang Gubernur bermaksud menjadikannya anggota DPD lewat pemilu yang akan tiba. Loela bergegas menyiapkan semua yang diminta. Selang beberapa hari dirinya kembali menemui Gubernur.
Loela masih ingat percakapan pagi itu. “Abdul Halil ini sapa?, tanya Sarundajang sambil memeriksa berkas. “itu saya”, jawab Loela. Dengan wajah serius Sarundajang berkata, “Ngana pe nama Abdul Halil? Tra jadi suda. Orang di sini lebe kanal Loela. Nama Abdul Halil ne orang tra tau. Kampanye sampe doi abis me orang tra pilih pa ngana”. Loela hanya tertawa.
Jabatan baginya bukan sesuatu yang mesti dikejar. Ketenaran sebagai penyanyi telah memberinya batas. Ia selalu bercermin pada pesan Eya. Hidup baginya lebih bermakna jika bisa membahagiakan orang lain. Di usia yang tak lagi muda, Loela sudah menemukan segalanya. Berbagai pernik hidup dijalani dengan senyum. Loela tak lagi mencari. Orang ramai lah yang akan terus mengingatnya sebagaimana kata John Lennon, legenda The Beatles yang hingga kini abadi namanya : Kau tak perlu orang lain untuk memberitahu siapa dirimu, Kaulah dirimu sendiri.
Asghar Saleh








Komentar