oleh

Malut United Minta Komdis Beri Sanksi ke Persiraja Aceh

MALUTSATU-Perlakuan tuan rumah Persiraja Banda Aceh terhadap tim tamu Malut United saat bertandang di Stadion Langsa Aceh, Selasa 5 Maret 2024. Betapa sportifitas diabaikan seolah-olah sepakbola melulu soal menang. Tak boleh kalah. Permainan

“Permainan sangat kasar ini dipertontonkan secara terbuka. Apakah kami akan membalas dengan yang sama di Leg 2 saat jadi tuan rumah?. Jawabnya Tidak. Malut United tak sepicik itu meski kami dirugikan,”ungkap salah satu Asisten manajer Malut United, Asghar Saleh Saat dihubungi, Kamis malam 7 Maret 2024.

Tak hanya sepanjang 90 menit tetapi sebelum bermainpun teror sudah diberikan. Lapangan Langsa tak punya security zone yang aman, ruang ganti hanya berukuran 3 x 4 meter tanpa AC sama sekali. Bayangkan ada lebih dari 30 orang berkumpul di dalamnya. Belum lagi pintu ruang ganti yang dipukul dari luar disertai sumpah serapah.

Menurutnya, apa yang dialami Ilham Armaiyn cs selama jalannya pertandingan tidak mengganggu kosentrasi bermain laskar Kieraha. Sebab sudah menjadi komitmen pelatih maupun pemain tetap menghormati keputusan wasit.

Asgar Saleh juga menunjukkan potongan video saat menghadapi Serambi Aceh dll yang beredar setelah pertandingan pada 5 Maret 2024 dan mereka semuanya membela Persiraja.

Menurut Asghar, opini yang dibangun seakan akan Malut United di bantu wasit terlalu naif. Wasit mestinya berikan kartu merah terhadap pemain Persiraja tapi tidak dilakukan dan Malut United tetap bermain secara fair.

Padahal, kata Asghar Saleh, selama 90 menit pemain Malut United dikasari secara terbuka. Sebelum main tim telah di teror. Setelah main juga di teror dengan serangan yang mengarah ke official.

“Maksud saya ada fakta menarik yang di jadikan dasar. Sejak main pertama lawan PSKC Cimahi di Sleman 10 September 2023 sampai leg 1 perebutan tempat ketiga, MU tak satu kali pun mendapat penalti. Sudah 21 pertandingan!. Kita berulang kali dirugikan tapi tak pernah membangun narasi menyalahkan perangkat pertandingan. Karena kita sadar sepakbola tak melulu soal harus menang,” katanya.

Selain itu, di Leg 1 Semifinal lawan Semen Padang adalah bukti terakhir. Gol yang tidak disahkan, penalti yang tak diberikan saat Frets Butuan dijatuhkan kiper dalam kotak penalti.

Dirinya menyebut, Persiraja ini lebay sekali, tiap home dapat penalti dan mereka menuntut yang sama saat lawan Malut United dan mereka marah terhadap keputusan wasit tapi official kita diserang juga.

“Kalau mau jujur, mestinya dua tiga pemain Persiraja di kartu merah karena pelanggaran berat yang dilakukan secara sengaja,” kata Asghar. (red)

Bagikan

Komentar