MALUTSATU,TERNATE-Harita Nickel melalui program “Harita Nickel Peduli” memberikan dukungan terhadap percepatan pemulihan korban banjir yang terjadi di Kecamatan Ibu, kabupaten Halmahera Barat.
Selian bantuan logistik, perusahaan pertambangan yang beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan itu juga menurunkan Emergency Response Team (ERT) langsung ke titik-titik terdampak.
Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat memberikan apresiasi atas kolaborasi tersebut. Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Halmahera Barat, Gunawan MT. Ali, menyampaikan rasa terima kasihnya saat menerima bantuan logistik secara simbolis pada Minggu (11/1).
Harita Nickel menyalurkan dukungan logistik berupa beras kemasan, mie instan, air mineral ukuran 600ml, serta matras atau tikar sebagai alas tidur yang sangat dibutuhkan para pengungsi di posko-posko desa.
Selain bantuan materiil, Harita Nickel mengambil langkah teknis dengan mengerahkan tiga tim Rescue atau Emergency Response Team untuk membantu warga membersihkan puing-puing sisa banjir yang menimbun pemukiman.
Sebanyak dua tim paramedic juga diterjunkan guna memberikan layanan kesehatan gratis bagi warga yang mulai terserang berbagai penyakit pasca bencana.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat, kami menyampaikan terima kasih kepada Harita Nickel. Bantuan logistik ini akan langsung kami salurkan kepada warga yang membutuhkan di tujuh kecamatan terdampak,” ujar Gunawan.
BPBD setempat melaporkan, wilayah terdampak banjir meliputi lima kecamatan dengan sembilan desa, yaitu Kecamatan Ibu (Desa Gamlamo, Tongute Ternate, Tongute Ternate Asal, dan Gamici), Kecamatan Sahu Timur (Desa Gamoneng), Kecamatan Tabaru (Desa Duomo dan Goin), Kecamatan Ibu Selatan (Desa Talaga), serta Kecamatan Loloda (Desa Soasio).
Dari kejadian ini, dilaporkan dua orang meninggal dunia di Desa Soasio, Kecamatan Loloda. Selain itu, sebanyak 726 kepala keluarga atau sekitar 3.444 jiwa terdampak langsung, dengan sekitar 1.500 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara ini menumpang di rumah warga yang tidak terdampak, sekolah, serta balai desa.
Aksi Cepat Emergency Response Team Harita Nickel di Lokasi Bencana
Usai menyerahkan bantuan di Posko Induk, Emergency Response Team Harita Nickel yang terdiri dari tiga tim lapangan dan dua tim paramedic langsung bergerak ke pusat bencana. Tim ini membawa pasokan obat-obatan yang disalurkan melalui Puskesmas Kecamatan Ibu serta memberikan penanganan medis langsung kepada warga yang mengeluhkan gangguan kesehatan.
Camat Ibu, Warjin Hi. Soleman, menjelaskan jumlah warga korban akibat banjir yang terjadi dimana secara akumulatif terdapat 1.593 jiwa atau 497 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak langsung.
Menurutnya, meski kebutuhan pangan darurat mulai teratasi lewat dapur umum TNI-Polri dan Tagana, kehadiran tim medis serta bantuan perlengkapan tidur dari Harita Nickel menjadi dukungan vital bagi stabilitas kondisi warga.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Desa Tongute Ternate, Said Sania, mengungkapkan bahwa kelelahan fisik dan trauma mulai memicu penyakit di masyarakat.
“Keluhan seperti gatal-gatal, demam, dan batuk muncul sejak hari pertama. Kehadiran paramedic dan bantuan obat-obatan Harita Nickel sangat membantu meringankan beban psikis warga kami,” tuturnya.

Tim Paramedic Harita Nickel saat memeriksa warga menderita penyakit pasca-banjir di Balai Desa Tongute Ternate
Kisah Haru di Balik Puing Banjir
Di tengah proses pembersihan, terselip kisah memilukan dari para penyintas. Sukarni Siu, warga Desa Tongute Ternate, menceritakan perjuangannya menggendong sang suami yang tengah sakit ke tempat yang lebih tinggi saat air setinggi dada mengepung rumah mereka di tengah malam. Kondisi semakin sulit karena anak sulungnya juga tengah menjalani perawatan amputasi kaki di Ternate.
“Ini situasi yang sangat berat. Mengurus rumah, suami yang sakit, dan memikirkan anak yang diamputasi di tengah bencana. Saya sangat berharap ada bantuan untuk kesembuhan suami dan anak saya,” ungkap Sukarni haru.
Kisah pilu juga datang dari Arfia Jalal (65), lansia yang menyebut banjir kali ini sebagai yang terparah sepanjang sejarah hidupnya. Seluruh peralatan dapur dan pakaian miliknya hanyut tak bersisa. “Badan saya sakit semua karena kejadian itu, tapi syukurnya sudah diperiksa dan diberi obat oleh tim medis Harita,” ucapnya.
Saat ini, tim gabungan masih terus bekerja di lapangan untuk memastikan sisa material banjir segera tertangani dan warga mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai selama masa pemulihan berlangsung. (red)








Komentar