MALUTSATU,TERNATE-Ekonomi Maluku Utara pada Triwulan III-2026 tumbuh 16,65 persen dibandingkan Triwulan III-2025 (y-on-y).
Demikian kata Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, Harim Arrosid dalam rilis yang disampaikan pada 5 November 2026
Pada Triwulan III-2026, perekonomian Maluku Utara juga tumbuh 17,16 persen (c-to-c) atau kumulatif Januari hingga September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Nilai PDRB Maluku Utara pada Triwulan III-2026 tercatat sebesar Rp22,0 triliun atas dasar harga konstan (ADHK) dan Rp42,8 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB). Nilai tersebut naik dari Triwulan III-2025 yang sebesar Rp18,9 triliun (ADHK) dan Rp33,7 triliun (ADHB).
“Berdasarkan distribusi dan pertumbuhan PDRB menurut lapangan usaha, Industri Pengolahan menjadi penopang utama ekonomi Maluku Utara,”kata Harim Arrosid
Distribusi Industri mencapai 51,17 persen dari total perekonomian Malut, dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 35,19 persen (y-on-y).
Menurut Harim Arrosid lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah Industri, didorong oleh masih tingginya permintaan dari Tiongkok selaku mitra dagang utama produk hasil pengolahan nikel.
“Empat dari lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian Maluku Utara menunjukkan pertumbuhan,” katanya.
Keempat kategori tersebut yaitu Industri, Pertanian, Perdagangan, dan Administrasi Pemerintahan, sedangkan kategori Pertambangan mengalami kontraksi pada triwulan ini. Sementara itu, seluruh kategori lainnya mengalami pertumbuhan pada triwulan ini.
Perdagangan tumbuh 13,45 persen, didorong oleh aktivitas produksi sektor lain di Maluku Utara yang masih meningkat dan barang kebutuhan ke kawasan industri.
Administrasi Pemerintahan tumbuh 10,77 persen, didorong oleh meningkatnya belanja pegawai baik APBN maupun APBD. Di tengah pemangkasan TKD dan efisiensi daerah, belanja modal APBN masih mendorong peningkatan lapangan usaha ini.
Sementara Pertambangan yang merupakan kontributor kedua terbesar dengan distribusi 16,75 persen, justru mengalami kontraksi sebesar -2,80 persen.
Investasi di Maluku Utara masih terus berjalan. Pada Triwulan III-2026, nilai realisasi PMA sebesar US$1,827 miliar, setara Rp30,14 triliun dengan kurs Rp16.500. Nilai tersebut setara 11,15 persen dari total PMA RI.
Dari sisi produksi, Ferronickel tumbuh 8,70 persen (y-on-y), Electrolyte Cobalt tumbuh 62,05 persen, Nickel Sulphate tumbuh 14,38 persen, Cobalt Sulphate tumbuh 43,75 persen, dan Nickel Plate tumbuh 23,28 persen.
Dibandingkan Triwulan III-2025 kata Harim Arrosid, terdapat komoditas baru yaitu Aluminium Ingot, NCMH, dan komoditas pada kelompok produk Akumulator Listrik.
Dari kinerja sektor pemerintahan, Belanja Pegawai APBN dan APBD meningkat sebesar 15,56 persen (y-on-y). Belanja Barang dan Jasa APBN meningkat sebesar 153,76 persen (y-on-y) dan Belanja Barang dan Jasa APBD meningkat sebesar 1,51 persen (y-on-y). Sementara Belanja Modal meningkat sebesar 11,87 persen (y-on-y).
“Kinerja perdagangan luar negeri juga membaik. Nilai ekspor Maluku Utara (US$) meningkat sebesar 35,23 persen (y-on-y). Volume ekspor total Maluku Utara meningkat sebesar 9,09 persen (y-on-y),”ujar Harim Arrosid. (red)










Komentar