oleh

“Uang Capek” Masih Banyak Mendominasi Transaksi Harian di Ternate

MALUTSATU,TERNATE-Di tengah klaim kesuksesan transaksi digital QRIS di Kota Ternate, warga justru dihadapkan pada realita berbeda. Uang kertas lusuh yang beredar di masyarakat, yang dikenal dengan istilah “uang capek”, kondisinya semakin tidak layak edar.

“QRIS memang lancar di mall dan kafe, tapi kenyataannya kita masih butuh uang cash. Masalahnya, uang yang kita dapat sekarang banyak yang sudah capek. Pudar dan lecek,” ujar Rahman salah seorang warga Ternate, kepada media ini, Jumat, 30 Oktober 2026.

Fenomena ini memunculkan spekulasi di masyarakat, apakah pemerintah sudah mengurangi pencetakan uang kertas karena mendorong masyarakat beralih ke dompet digital.

Bank Indonesia (BI) sendiri pada September 2026 lalu mengakui bahwa pertumbuhan uang kartal (uang kertas dan logam) secara nasional memang melambat. Penyebabnya adalah pesatnya transaksi digital melalui QRIS yang kini telah digunakan lebih dari 67 juta pengguna dengan pertumbuhan 67 persen.

Namun, BI menegaskan bahwa pelemahan uang kartal bukan berarti BI berhenti mencetak uang. Deputi Gubernur BI menyatakan, wilayah kepulauan seperti Maluku Utara tetap membutuhkan uang tunai.

“Indonesia ini sangat luas, wilayahnya pulau-pulau, ada daerah terdepan, terluar. Tentunya mereka juga masih butuh uang cash,” demikian pernyataan BI yang dikutip dari siaran resminya.

Di Ternate, perputaran uang lusuh sangat panjang. Uang yang sama harus berpindah dari pedagang di Pasar Gamalama, ke sopir angkot dan tukang ojek di Bastiong, ke warung di Kota Baru, puluhan kali sebelum kembali ke bank.

Bahkan kita juga temui uang lusuh atau uang capek, di sejumlah gerai modern seperti Alfamidi, indomaret serta sejumlah gerai modern lainnya yang berada di kota Ternate. Uang Capek terbanyak pada dominal Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, dan p.20.000 paling sering ditemukan dalam kondisi lusuh karena intensitas perputarannya yang sangat tinggi di masyarakat (seperti di pasar tradisional) dan bahkan di sejumlah gerai modern.

Ada tiga penyebab utama uang lusuh banyak beredar di Ternate, diantaranya Kurangnya akses perbankan: Masyarakat di daerah atau pasar tradisional sering kali tidak sempat atau kesulitan menjangkau layanan penukaran uang resmi ke bank.

Selain iti, intensitas transaksi yang tinggi : Uang kertas terus berpindah tangan secara cepat tanpa melalui proses penyaringan atau penyetoran kembali ke perbankan. Serta kebiasaan memperlakukan uang: Uang sering kali terlipat, terkena air, atau tidak disimpan dengan baik oleh pengguna.

Menanggapi hal tersebut, warga berharap BI Perwakilan Provinsi Maluku Utara lebih intensif melakukan operasi Kas Keliling dan penukaran uang lusuh.

Sesuai Peraturan Bank Indonesia No. 21/10/PBI/2019, uang lusuh yang masih memiliki ciri keaslian dapat ditukar 100 persen nilainya di bank umum maupun di BI. Selain itu, perbankan di Ternate diminta tidak mempersulit warga yang hendak menukar uang tidak layak edar.

“Warga Ternate butuh kepastian. Kalau Ternate ingin jadi kota modern dengan QRIS lancar, pastikan juga uang kertas yang beredar adalah uang yang layak dan bermartabat. Martabat uang adalah martabat kita,” tutup warga tersebut. (red)

Bagikan

Komentar