MALUTSATU,TERNATE-Keputusan sanksi Komisi Displin (Komdis) terhadap Yakob Sayuri dinilai tidak adil dan merugikan yang bersangkutan. Punggawa Tim Nasional itu adalah korban Rasisme tetapi malah diberikan hukuman sanksi tidak bermain selama tiga laga.
Salawaku satu satu kelompok Suporter Malut United menilai keputusan Komdisi tidak didasari rasa keadilan, dan diduga punya motif kepentingan.
“Komdis dalam keputusannya harus menerima informasi yang jelas, jangan hanya sepihak saja. Apalagi keputusan Komdis ada pihak yang paling dirugikan yakni, Yakob Sayuri dan tim Malut United itu sendiri,”ungkap ketua Salawaku, Iksan Do Yasin kepada wartawan di Ternate, Minggu, 7 Desember 2025.
Seperti diketahui ada terjadi keributan usai duel Persita Tangerang kontra Malut United FC pada Pekan ke-13 BRI Super League di Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Minggu (23/11/2025).
Kronologis kejadiannya kata Iksan Do Yasin, keributan di tunnel bermula setelah laga Persita Tangerang vs Malut United seorang individu mengaku sebagai wartawan mengenakan Id card resmi tiba-tiba masuk ke area steril yang hanya boleh diakses pemain dan official.
Kehadiran bukan saja melanggar aturan keamanan, tetapi juga memicu ketegangan, karena oknum tersebut sempat merekam dan memprovokasi pemain. Pada saat itulah Yakob Sayuri mencoba menegur dan meminta orang tersebut keluar dari area yang tidak seharusnya ia masuk sekalipun sebagai wartawan apalagi tidak menggunakan id card resmi. Kehadirannya di area terbatas itu memicu reaksi dari pemain dan staf Malut United karena ia sempat merekam dan memprovikasi pemain.
“Yakob Sayuri mencoba mengusir orang tersebut, namun individu itu menolak dan mengeluarkan ucapan bernada rasis. Ceksok pun terjadi, dan insiden inilah yang kemudian berunjung pada sanksi larangan bermain Yakob Sayuri,”ceritanya.
Tak hanya itu, belum sempat situasi mereda, beberapa official Persita yang juga tidak menggunakan ID Card resmi ikut masuk ke area tunnel. Masuknya pihak tanpa identitas ini membuat tempat yang seharusnya steril menjai penuh sesak.
Perdebatan mulai memanas, dan suasana menjadi tidak kondusif. Ketidateraturan ini menjadi salah satu penyebab utama keributan membesar karena tidak ada kontrol akses yang jelas di area tersebut.
“Ditengah kericuan itu, Yakob Sayuri justru menjadi pihak yang paling dirugikan. Ia menerima ucapan bernada Rasis dari oknum tak beridentitas tadi, sebuah perlakuan yang seharusnya sama sekali tidak boleh terjadi di sepakbola professional,”tambah NyongBarakati Sekjen Salawaku.
Yang sangat disayangkan, kata Nyong Barakati, pelaku rasisme alih-alih mendapat perlindungan atau dukungan atas tindakan tidak pantas tersebut. Sementara Yakob Sayuri malah dijatuhi sanksi larangan bermain selama tiga pertandingan.
Sayangnya perlakuan tak adil terhadap Yakob Sayuri, klub tidak diberi kesempatan untuk menajukan banding atas hukuman itu. Sementara Persita Tangerang tidak mendapat hukuman apapun dari Komsi Dispilin (Komdis).
“Situasi ini menempatkan Yakob Sayuri seorang pemain timnas yang selalu memberikan totalitas untuk klub dan negara, dalam posisi sangat tidak adil. Ia menjadi korban provokasi dan rasisme, namun justru menjadi pihak yang menerima hukuman paling besar,”ungkap Nyong Barakati.(red)








Komentar