Sepanjang Januari-Juli 2026, nilai ekspor Maluku Utara mencapai US$ 9,84 miliar atau Rp 178,15 triliun, didorong produksi nikel terbesar di Indonesia dan hilirisasi yang terus berjalan.
MALUTSATU,TERNATE-Maluku Utara mencatat sejarah baru di sektor perdagangan. Sepanjang Januari-Juli 2026, nilai ekspor Maluku Utara mencapai US$ 9,84 miliar atau setara Rp 178,15 triliun. Angka ini menjadi yang tertinggi untuk periode tujuh bulan pertama dan menegaskan posisi Maluku Utara sebagai pusat hilirisasi nikel nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, nilai ekspor Januari-Juni 2026 saja sudah mencapai US$ 8,34 miliar atau Rp 151,00 triliun. Angka tersebut meningkat 21,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Juli 2026, nilai ekspor kembali mencapai US$ 1,50 miliar atau Rp 27,16 triliun. Jika dijumlahkan, total ekspor tujuh bulan pertama 2026 sudah menembus Rp 178,15 triliun.
Ini bukti Maluku Utara bukan lagi sekadar daerah tambang, tapi sudah menjadi daerah industri. Maluku Utara tidak lagi jual bijih mentah, Maluku Utara jual produk olahan yang nilainya jauh lebih tinggi.
Capaian ekspor tersebut didukung oleh produksi bijih nikel yang juga terbesar di Indonesia. Berdasarkan paparan Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, produksi bijih nikel nasional hingga September 2026 mencapai 225,3 juta ton.
Maluku Utara menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 38 persen atau setara 85,614 juta ton bijih. Maluku Utara adalah tulang punggung produksi nikel nasional. Tanpa Maluku Utara, hilirisasi nikel Indonesia tidak akan jalan.
Berbeda dengan satu dekade lalu, Maluku Utara kini tidak lagi mengekspor bijih nikel mentah. Sejak larangan ekspor bijih pada 2020, yang dikirim dari Halmahera Tengah dan Pulau Obi adalah produk olahan bernilai tambah tinggi.
Data Kementerian Keuangan mencatat, hanya untuk komoditas feronikel saja, nilai ekspor Maluku Utara Januari-September 2026 sudah mencapai US$ 7,25 miliar atau Rp 131,26 triliun.
Selain feronikel, ekspor Maluku Utara kini sudah sangat beragam, antara lain, Feronikel, Nikel Matte, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), Nikel Sulfat, Kobalt, Besi dan Baja serta Baterai Kendaraan Listrik (EV).
Meski harga nikel dunia di level US15.800−US 15.800 – US15.800−US 16.280 per ton, nilai ekspor Maluku Utara tetap melonjak karena volume produk olahan yang dikirim semakin besar dan jenis produknya semakin beragam, dari yang tadinya hanya feronikel, kini sudah sampai ke baterai.
Untuk menjaga smelter tetap beroperasi di tengah pembatasan kuota RKAB, Maluku Utara juga mendatangkan bijih nikel (ore) dari Filipina sebagai bahan baku tambahan.
Di saat Maluku Utara menjadi penyumbang terbesar produksi bijih nikel nasional dengan 38 persen atau 85,614 juta ton hingga September 2026, smelter di Maluku Utara justru harus mengimpor bijih dari Filipina.
Pembatasan kuota produksi bijih nikel (RKAB) 2026 menjadi 260-270 juta ton, turun dari realisasi 320,37 juta ton pada 2025, membuat smelter kekurangan 50-100 juta ton bijih. Di IWIP Halmahera Tengah, kuota PT Weda Bay Nickel dipangkas dari 42 juta ton menjadi 12 juta ton, sehingga defisit 30 juta ton.
Akibatnya, hingga Agustus 2026, sebanyak 8,18 juta ton bijih nikel dari Filipina masuk ke Maluku Utara, 7,8 juta ton ke Weda dan 380.792 ton ke Pulau Obi, dengan nilai sekitar Rp 7,01 – Rp 8,46 triliun. Padahal Indonesia adalah produsen nikel terbesar dunia.
Pemerintah kemudian merevisi kuota RKAB 2026 naik menjadi 290 juta ton pada 16 Oktober 2026, namun smelter tetap membutuhkan pasokan tambahan dari Filipina agar tetap beroperasi.
Impor ini bukan karena kita tidak punya nikel, tapi untuk memastikan smelter tidak berhenti. Smelter harus tetap jalan, pekerja tetap bekerja, ekspor tetap jalan.
Capaian ekspor tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi Maluku Utara. BPS mencatat ekonomi Maluku Utara pada Triwulan II 2026 tumbuh 15,35 persen secara tahunan (year on year), tertinggi di Indonesia.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai sekitar Rp 40 triliun pada triwulan tersebut. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang sektor industri pengolahan yang tumbuh 35,84 persen.
Maluku Utara kini menjadi contoh berhasilnya hilirisasi. Investasi masuk, industri tumbuh, ekspor naik, ekonomi tumbuh tertinggi di Indonesia. Ini yang harus dijaga dan dikembangkan.
Jika memakai rata-rata ekspor Januari-Juli 2026 sebesar US1,406miliar atau Rp25,45 triliun per bulan, maka proyeksi total ekspor Maluku Utara hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai US 1,406 miliar atau Rp 25,45 triliun per bulan, maka proyeksi total ekspor Maluku Utara hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai US1,406 miliar atau Rp25,45 triliun per bulan, maka proyeksi total ekspor Maluku Utara hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai US 16,87 miliar atau Rp 305,41 triliun.
Angka tersebut akan menjadi rekor baru dan semakin mengukuhkan Maluku Utara sebagai provinsi dengan nilai ekspor terbesar di kawasan timur Indonesia.
Capaian ini terus berlanjut seiring beroperasinya proyek-proyek hilirisasi baru di IWIP dan Pulau Obi, serta meningkatnya permintaan global terhadap produk baterai kendaraan listrik. (red)










Komentar